Selepas Perginya, Aku belajar Ikhlas
This is my Story.............
Selepas
Kepergiannya, Aku Belajar Ikhlas
Mungkin, ada banyak orang yang telah melewati masa tersulit
dalam hidupnya, tidak terkecuali diriku. Masa ketika aku harus kehilangan orang yang
sangat berjasa dalam hidupku pun sangat berharga dan tidak akan mampu
tergantikan oleh siapapun itu. Dia adalah orang yang sangat berpengaruh dalam
segala aspek kehidupanku, Orang yang telah merawatku dengan penuh cinta
dan kasih sayang, yang kata orang merawat anak-anaknya tanpa kenal Lelah,
memikul kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Hingga saat ini, aku masih
percaya dengan rasa kasih sayang yang tidak pernah mati. Bahkan, untuk
melupakannya pun tidak pernah terlintas dalam benak saya.
Ada segelintir orang yang ketika melewati masa
tersulit dalam hidupnya, itu tak mampu mengendalikan tingkat emosional
perasaannya atau yang kerap orang sebut adalah rasa “Dendam”. Rasa ini tidak
lepas dari adanya rasa sakit hati, sehingga kata “memaafkan” terlalu rumit
untuk dijadikan sebuah alasan untuk mengikhlaskan dia yang telah pergi. Dia
adalah Ayahku. Yahh…..dia adalah sosok lelaki terhebat yang tak akan pernah
kutemui pada siapapun itu. Ayah dengan kepribadiannya yang kuat dan tegas dalam
mendidik anak-anaknya agar bisa lebih tegar dalam menghadapi segala macam hal,
dia adalah sosok ayah yang senantiasa mengajarkan anak-anaknya sabar dan tabah
akan masalah yang menimpa.
Kehidupanku Bersama dengan keluarga yang begitu
menyayangiku sungguh baik-baik saja sebelum ayahku meninggal. Hari-hari bahagia
bersamanya teramat sulit untuk dilupakan. Kenapa tidak? Bahkan sedikitpun dia
tidak pernah memarahiku ataupun memukulku.
Deretan kisah bahagia bersamanya telah kurasakan.
Namun, semuanya seakan menjadi gelap selepas kepergiannya. Nyawanya telah
direnggut oleh tangan-tangan kejam perampok yang telah menyiksa bahkan
membunuhnya hingga tubuhnya terbujur kaku dengan berlumuran darah sekujur
tubuh.
Aku tidak pernah terpikir bahwa semua ini akan
terjadi. Air mataku makin deras ketika ucapan “Dimana anak cantikku?”,
terlontar di mulut ayahku sebelum akhirnya ia harus pergi meninggalkan semua
kenangan yang telah kami lalui Bersama.
Kisah ini dimulai ketika peristiwa sebuah handphone
kesayangan ayahku hilang diatas meja. Ayahku sebenarnya telah mencurigai dalang
dibalik pencurian itu. Namun, beliau hanya membiarkan saja pencuri itu
berkeliaran karena dia memang tipikal orang yang tidak pernah memperpanjang
sebuah permasalahan kecil.
Sehari setelah peristiwa itu terjadi, ternyata aksi
dari pencuri itu tidak berhenti sampai disitu. Tindakannya kemudian berlanjut
disuatu malam ketika semua orang telah terlelap di tempat pembaringannya. Malam
itu, ayahku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dengan seorang sahabat yang
selalu menemani beliau ketika hendak berdagang. Saat perjalanan pulang, ayahku
ternyata menyempatkan diri untuk singgah di sebuah perkebunannya untuk melihat
keadaan disana. Sebenarnya ada perasaan aneh yang saya rasakan sesaat sebelum beliau berangkat
menuju sebuah pesta temannya.
Sesaat sebelum keberangkatan
“Nak, sebentar kalau Bapa lambat pulang, kunci pintu
yah, jendela juga jangan lupa ditutup. Jaga adek dan jaga mama juga.” Pungkas
ayah, kemudian beranjak pergi tanpa mendengar balasan dariku.
Perasaan khawatir, takut, gundah bercampur aduk hingga
tidak bisa kuungkapkan melalui kalimat. Aku merasa aneh dengan ucapan yang
dilontarkan ayahku itu
-
Setibanya ayahku di rumah sekitar pukul 10:00
malam, dia berbaring sejenak dan sempat menikmati kopi yang telah
disuguhkan oleh ibu. Beberapa saat kemudian, waktu telah menunjukkan pukul
12 malam lewat. Itu tandanya listrik sudah waktunya untuk di matikan. Ketika
kami di Malaysia, sambungan listrik melalui PLN itu tidak tersedia di kompleks
perumahan saya. Hanya ada sebuah mesin pembangkit listrik yang menggunakan
bahan bakar bensin yang biasa disebut “Genset”. Akhirnya beliau pun beranjak
dari tempat duduknya menuju ke lokasi mesin pembangkit listrik itu berada.
Karena suara yang dihasilkan oleh genset
itu cukup besar, maka benda tersebut harus diletakkan di tempat yang agak jauh
dari perumahan. Lokasi tersebut berada di belakang perumahan saya, dengan
suasana yang gelap, sunyi dan agak menyeramkan karena disekitar lokasi itu
hanya ada sebuah hutan kecil yang dipenuhi semak-semak.
Ayahku pun telah seperdua perjalanan menuju tempat
mesin itu berada, dengan sebuah senter dan dengan tubuh yang hanya beralaskan
sarung menutupi lutut hingga pinggangnya. Beberapa saat kemudian, ayahku tiba
di tempat tersebut. Tanpa banyak berpikir, ayahku telah memegang sebuah kabel
untuk mematikan mesin itu. Bersamaan dengan pemutusan kabel tersebut, sebuah
kayu dengan paku yang tertancap kokoh telah menghantam punggung ayahku. Ia pun
berteriak keras “ mama!!! Ambil saya ma!!! Tolong saya!!”, kalimat itu terus
terlontar di mulut ayahku hingga ibuku refleks terbangun dari tidurnya. Tanpa
sadar ibuku menyenggol sebuah gelas hingga terjatuh dan pecah di atas lantai.
Ia mencari ayahku yang telah tidak berada disampingnya lagi.
Ibuku panik dan terus mencari keberadaan ayahku.
Hingga pada akhirnya teriakan kedua dari ayahku terdengar di telinganya. Dia telah tahu arah teriakan
itu. Lalu ia pun beranjak menuju tempat ayahku dibantai. Dengan hati yang
begitu cemas, dalam perjalanan ibuku selalu berdoa agar ayahku dalam keadaan
baik-baik saja. Belum sampai di tempat mesin itu berada, ternyata leher ibuku
telah dirangkul paksa oleh perampok itu. Kepalanya ditabok memakai balok besar
hingga berdarah. Pakaian yang dipakai oleh ibuku dirobek yang hanya
meninggalkan pakaian dalamnya saja. Pakaian yang telah dirobek itu kemudian
diikatkan di tangan,kaki dan mulut ibuku. Seluruh perhiasan yang dipakai oleh
ibuku pada saat itu, dirampas semua oleh perampok itu. Hingga membuat telinga
dan leher ibuku juga berdarah karena penarikan paksa dari perampok itu. Sedangkan
ayahku, sudah tidak mampu bergerak lagi, tubuh yang dulunya kekar bak gatot
kaca telah kaku lemah dengan berlumuran darah seluruh tubuh. Bagi orang yang
melihat keadaannya seperti itu, mungkin akan terlontar ucapannya bahwa tidak
ada kesempatan hidup lagi bagi ayahku.
Tidak hanya sampai disitu, setelah perampok itu
menghantam keras fisik orangtuaku, mereka kemudian beranjak menuju kamar
tempatku tidur. Aku terkejut ketika suara keras menyuruhku bangun dari tempat
tidur. Aku ketakutan dan menangis tersedu-sedu karena ancaman perampok itu.. “Jika
kamu membantah dan mengeluarkan suara, maka parang ini akan menebas lehermu”
ancam perampok itu. Saya semakin ketakutan dan hanya terdiam mengikuti kemauan
dari perampok itu. Semua uang yang ada di dompet ayahku kuberikan termasuk 4 buah
handphone, kunci mobil dan juga kunci motor. Setelah perampok itu telah
mendapatkan semua yang ia mau, merekapun beranjak pergi meninggalkan lokasi
perumahan. Sesaat kemudian, adikku yang masih berusia 2 bulan pada saat itu,
mengeluarkan tangisan keras. Aku panik, tidak tahu harus melakukan apa,
dipikiranku hanya kedua orangtuaku. Disebuah rumah pada malam itu hanya ada aku
dan adikku. Kemudian saya terpikirkan untuk meminta tolong. Saya berteriak
keras berharap ada orang yang mendengarkan teriakanku. Dan ternyata berhasil,
sejumlah orang telah mengahampiri dan menolong kami.
Sebagian membawa kami ke rumahnya dan sebagiannya pula
mencari ayah dan ibuku. Beberapa menit kemudian, warga telah menemukan
orangtuaku dalam keadaan mengenaskan. Tanpa berpikir lama, orangtuaku kemudian
dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil Ambulance untuk dirawat.
Rasa
sakit seakan mencambuk hati hingga aku harus terpuruk karena kehilangan.
Terlebih lagi selepas ayahku pergi, sikap ibuku berubah drastis. Ia menjadi
keras dalam mendidikku. Segala sesuatunya harus berjalan sesuai dengan
keinginannya. Meskipun itu sulit untuk kulakukan. Namun, sikap tegasnya ibuku,
telah menjadikanku wanita yang bisa lebih tegar dalam menghadapi segala
masalah. Sekarang aku telah tumbuh menjadi perempuan yang kuat menjalani hidup
tanpa “Dendam’. Aku ikhlas melepas dia pergi, Tuhan lebih menyayanginya
dibanding diriku. Aku hanya perlu berserah diri kepada tuhan yang maha esa,
mendoakan beliau agar senantiasa ditempatkan disisi-NYA.
Waktupun
kian berlalu setelah kepergian ayah. Keluarga yang ditinggalkan sangat terpukul
termasuk ibu dan saya sendiri. Ibu pada saat itu sempat mengalami depresi berat
hingga beberapa bulan. Namun menjelang bulan ke 6 setelah ayah meninggal, ibu
makin membaik karena proses penyembuhan melalui cek ke dokter. Keadaan ibu makin membaik dan beliau sudah mulai bisa
menerima kenyataan akan kehilangan seorang suami yang amat ia cintai dan
sayangi.
Setelah ayahku
meninggal, kondisi ekonomi kami juga merosot. Kebutuhan yang semakin meningkat
namun keuangan yang semakin menyempit pula. Kehidupan kami menjadi tidak
terkendalikan oleh keuangan. Hingga pada akhirnya ibuku harus bekerja menjadi
buruh dalam keadaan yang masih dalam tahap pemulihan kepalanya yang telah
dioperasi, namun dia tetap punya semangat tinggi demi biaya hidup untuk
anak-anaknya. Walaupun ibuku harus bekerja keras, ia tidak pernah sedikitpun
mengeluh dengan keadaannya yang seperti itu. Dari beliau, aku belajar kuat dan
mandiri, dia tidak pernah mementingkan dirinya sendiri, ia lebih
memprioritaskan kebutuhan serta kebahagian anak-anaknya. Ibuku kerap
mendapatkan cibiran oleh ibu-ibu di sekitar perumahanku. Karena suami-suami
mereka selalu membantu ibuku. Padahal tidak ada niat ibu untuk menjalin
hubungan dengan mereka. Ibu tidak pernah sedikitpun melawan mereka. Dia tetap
menolak segala kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh para lelaki yang telah
beristri itu.
Sembari bekerja sebagai buruh, disamping itu pula ibu
bekerja sebagai penjual sayuran dan kue untuk tambahan biaya hidup kami. Ketika
ada waktu libur sekolah, aku dan adik-adikku turut membantu pekerjaan ibu. Ada
rasa sedih beriringan senang Karena dari sini aku belajar kuat dan juga bisa lebih
dekat dengan ibu.
Rejeki yang diberikan ALLAH kepada kami, sekan tidak
ada hentinya. Selalu ada jalan yang ditunjukkan dan keberkahan hidup yang penuh
arti. Setelah bekerja sebagai buruh, ibuku kemudian beralih menjadi pedagang
dengan modal hasil pekerjaannya menjadi buruh dan kerja sampingannya. Kehidupan
ekonomi kami perlahan membaik dan normal kembali.
2 tahun setelah kepergian ayahku, ibuku menikah dengan
seorang petani. Kehidupan keluargaku makin membaik karena telah ada kepala
keluarga yang siap menopang serta menjaga keluarga. Dia adalah sosok pengganti
ayah yang tidak kalah baik dari ayah kandungku. Aku sangat berterima kasih
kepada Tuhan yang maha Esa, karena telah memperlihatkanku sebuah arti hidup
yang sebenarnya bahwa hidup memang butuh perjuangan, berjuang dari keterpuruan,
berjuang dari kerasnya hidup yang penuh ketidakpastian dan berjuang dari
sakitnya kehilangan. Dari orangtuaku, aku belajar banyak hal. Terkhusus ibuku,
wanita terhebat yang kuat dan tegas dalam mendidik dan juga ulet dalam bekerja.
Bahkan aku percaya dengan adanya kesetaraan gender itu. Ibuku mampu melakukan
pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum lelaki. Meski kesehatannya tidak
mendukung, Merasa pusing dan pingsan acapkali ia alami. Tapi sekarang, dia
tidak sendiri lagi. Telah ada seorang lelaki yang menemani dia menghadapi hidup
baik suka maupun duka.
Dari ibu dan ayah, aku belajar kuat. Tegasnya ibuku, telah menjadikanku
wanita yang bisa lebih tegar dalam menghadapi segala problematika hidup. Kasih
sayang ayah dan Ibu akan selalu terpatri dalam hati. Sekarang aku telah tumbuh
menjadi perempuan yang kuat menjalani hidup tanpa “Dendam”. Aku ikhlas melepas
dia pergi, Tuhan lebih menyayanginya dibanding diriku. Aku hanya perlu berserah
diri kepada ALLAH, mendoakan beliau agar senantiasa ditempatkan disisi-NYA.
Sekarang tugasku hanyalah belajar dan mengenyam
Pendidikan dengan sebaik-baiknya, agar kelak bisa menjadi orang yang sukses dan
bernilai serta bermanfaat bagi orang lain. Dan bagi kalian yang masih utuh
kedua orangtuanya, tolong hargailah mereka, sayangilah mereka sebelum
kehilangan menimpa kalian. Bentuk kasih sayang tidak harus dengan ucapan, cukup
doakan mereka selalu agar senantiasa diberikan kesehatan oleh sang pencipta.
Cerita ini merupakan kisah nyata yang ditulis oleh seorang wanita kerdil
bak kurcaci pada Jum’at, 04 Oktober 2019,
dengan identitas sebagai berikut
Nama : Nurfazila
ID IG : nur.fazila_
No. WA : 085341902766
Alamat : Jl. Padat
Karya,Tondo, Sulawesi Tengah


Masya Allah kerennn
BalasHapusAlhamdulillah Astri😊
BalasHapusSemangat
BalasHapusiya siap hehehe
Hapus